Jakarta, 2000
Tidak ada yang luar biasa. Semua bahkan terlalu biasa di hari perpisahan mereka. Namun mereka tetap enggan menyampaikan perpisahan. Tidak ada yang suka perpisahan antara mereka berdua. Tetapi juga tak ada yang bisa diperbuat agar mereka tidak berpisah.
“Kapan kita akan bertemu?”
Salah satu di antara mereka akhirnya ada yang mau bersuara.
“Jangan pernah tanyakan itu. Aku tak ingin mendengarnya.”
“Semoga waktu segera membawamu kembali bertemu denganku.”
“Aku tidak akan melupakanmu.”
“Harus.” jawabnya dengan percaya diri
Dia tersenyum simpul melihatnya.
“Bahkan di kehidupan yang berikutnya, kamu juga harus selalu mengingatku.”
“Kalau begitu kamu juga harus selalu mengingatku.”
“Itu janjiku. That’s my promise.”
Mereka tersenyum satu sama lain.
Bandung, 2002
Tidak ada yang mengharapkan ini semua terjadi. Bahkan meskipun itu hanya sebuah mimpi. Namun hari ini, dia benar-benar pergi. Sayangnya, kepergiannya kali ini sungguh takkan membuatnya bisa kembali.
“Kita tak pernah membuat janji untuk bertemu dalam momen seperti ini,” katanya dengan air mata menetes.
“Aku tak suka momen seperti ini, jadi ayo bangun!!! Buka kedua matamu itu!!” bentaknya
Semua yang datang pun langsung berlari ke dalam.
“Ada apa denganmu, Nak? Ayo kita tenangkan dirimu terlebih dulu.”
Ayahnya pun membawanya pergi. Dia terduduk lesu. Tatapannya kosong. Namun air matanya terus mengalir. Ini adalah momen yang sangat menyakitkan dalam hidupnya.
“Katakan pada saya kalau itu bukan dia ayah. Katakan pada saya!!” teriaknya
“Kamu yang tabah ya, Nak.” kata sang ayah sambil memegang pundaknya
“Tidak, itu pasti bukan dia. Kami tak pernah membuat janji seperti ini!!”
Sang ayah hanya diam sambil memeluknya.
“Semua akan segera berlalu. Kamu hanya butuh waktu.” kata sang ayah
Bandung, 2017
“Kemana saja kamu? Ini sudah 17 tahun. Kenapa kamu belum menemuiku?” katanya dengan raut wajah sedih
“Aku masih berharap yang tertidur di dalam sana bukan kamu. Terlalu sulit bagiku untuk meyakini bahwa ini kamu.”
“Bisakah aku terus berharap seperti ini?”
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun langsung mengambilnya dari saku lalu menjawab panggilan.
“Iya, ayah.”
“Kapan kamu pulang? Ayahkan sudah bilang kita akan kedatangan tamu spesial.”
“Mungkin besok pagi aku sudah sampai Jakarta.”
“Baiklah, ayah tunggu.”
“Oke.”
Dia langsung menutup panggilannya dan menaruh ponselnya kembali di saku celana.
“Semoga suatu saat nanti, keyakinanku ini benar. Kita pasti akan segera bertemu lagi. Firasatku mengatakan seperti itu. Ingatlah bahwa janjiku tak pernah berubah sampai detik ini. Aku masih menunggumu…”
“Citra,” ucapnya lalu memakai kacamata hitam dan pergi.
Keesokan harinya di Jakarta
Dia baru saja mendarat dan langsung bertolak ke rumah. Sebab, menurut sang ayah tamu spesial sebentar lagi akan datang. Dia sengaja memilih penerbangan pagi buta agar bisa sampai di Jakarta sebelum waktu kemacetan dimulai. Benar saja, ia langsung sampai di ruamhnya ketika jarum pendek menunjuk angka enam. Begitu turun dari mobil ia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Tepat jarum panjang menunjuk ke angka tujuh, bel rumahnya sudah berbunyi. Sang ibu langsung memanggilnya untuk keluar karena tamu mereka sudah datang. Ia pun keluar kamar dan langsung menemui tamu spesial keluarganya.
“Madi Jigyasa.” ia memperkenalkan dirinya
“Anakmu lebih tampan dari dugaanku.”
“Benarkah?” gurau sang ayah
“Oh iya, mana putrimu?”
“Mungkin sebentar lagi.”
Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi. Bibi membukakan pintu dan seseorang pun masuk menghampiri mereka.
“Itu dia putriku.”
Ji dan keluarganya sangat terkejut melihat siapa yang datang.
“Citra?” semuanya kompak menyebutkan nama yang sama
“Citra? Siapa itu?”
“Ya Tuhan, maafkan aku. Aku refleks tadi.”
“Kenalkan, ini putriku, Karnia.”
Ji terus-menerus memandangnya. Ia merasa bahwa Tuhan telah mendengar seluruh harapannya dan firasatnya ternyata tak meleset.
“Aku tahu kamu memang belum meninggal,” kata Ji dalam hati.
“Bisakah aku dan Karnia bicara sebentar, paman?”
“Oh tentu saja. Silakan.”
Ji pun langsung mengajak wanita bernama Karnia tersebut bicara di teras rumah. Mereka duduk saling berhadapan. Ji memperkenalkan namanya terlebih dulu.
“Aku Madi Jigyasa. Kamu bisa memanggilku, Ji.”
“Baiklah. Kalau begitu kamu bisa memanggilku Nia.”
“Bagaimana jika aku memanggilmu Citra?”
“Citra?”
“Astaga, maafkan aku.”
“Ada apa dengan nama itu sampai kamu begitu ingin memanggilku dengan nama itu?”
“Ada sebuah janji yang belum kuselesaikan dengannya.”
“Lalu kenapa tidak menyelesaikannya?”
“Tapi aku pikir mulai hari ini, aku sudah menepati janjiku.”
“Benarkah? Bagaimana caranya?”
“Kamu yakin ingin tahu?” dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih ke depan
“Kamu.”
Mereka pun saling menatap satu sama lain. Suasana sempat hening.
“Aku?” tanyanya sambil menyernyitkan dahi
Suasana hening pun hilang. Ji hanya tersenyum sambil membuang pandangannya ke arah lain.
“Apa aku dan Citra itu memiliki banyak kesamaan?”
“Bukan kesamaan lagi, tapi aku merasa kamu itu adalah dia.”
“Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan hal itu?”
Ji mengambil ponsel dari sakunya lalu memberikan ponselnya pada Karnia.
“Apa itu mungkin secara kebetulan kamu dan dirinya adalah orang yang sama namun berbeda?”
“Aku memiliki keyakinan bahwa seorang yang sudah mati, dia akan tetap berada di sana sebagai dirinya dan tidak mungkin dilahirkan kembali dengan wujudnya namun memiliki sifat orang lain. Itu terlalu tidak masuk akal.”
“Lalu kamu menyimpulkan bahwa aku ini sebenarnya dia?” katanya sambil menunjukkan gambar
“Mungkin kamu adalah dia, yang sebenarnya masih hidup.” kata Ji dengan tatapan serius
Dia meletakkan ponsel itu di kursi sambil mengusap-usap wajahnya.
“Biar aku luruskan.”
Ji mempersilakan.
“Siapa gadis yang ada dalam foto ini?”
“Dia manusia yang sangat aku cintai.”
“Lalu dimana dia sekarang?”
“15 tahun yang lalu orang-orang mengatakan bahwa dia telah meninggal lalu menguburkannya. Tapi..”
“Apa? Tapi apa?”
“Aku masih meyakini bahwa dia masih hidup. Bagiku yang terkubur di dalam tanah itu adalah jasad orang lain.”
Karnia tertawa.
“Apa yang lucu?”
“Jadi ini cerita tentang ketidakmampuanmu menerima kenyataan?” sindir Karnia
“Maksudnya?”
“Lalu karena ketidakmampuanmu itu lantas kamu mengatakan bahwa aku ini adalah dia karena kami sangat mirip? Oh,ayolah!!”
“Kami ini spesies yang berbeda.”
“Berarti kamu mau mengatakan kalau aku gila?”
Karnia menghela napas, “Untuk jawaban jujur, maaf aku harus katakan ‘Ya’.”
Ji hening.
“Tapi tenang saja, aku akan membantumu melewati semua kesulitan. Kita akan melakukannya bersama-sama.”
“Bersama-sama?”
“Apa kamu belum tahu rencana orang tuaku dan kamu?”
Ji menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, mari kita masuk untuk mengetahuinya. Kamu duluan.”
Mereka pun beranjak dari kursi dan pergi ke ruang tamu. Baru saja mereka memasuki ruang tamu, kedua orang tua sudah memberikan selama kepada mereka. Ji merasa sangat aneh, sementara Karnia justru biasa-biasa saja.
“Ini ada apa ayah?”
“Kamu harus menjaga Karnia dengan baik ya?” kata sang ayah
Ji masih belum paham.
“Sebentar, ini sebenarnya ada apa?”
“Apa kamu belum memberi tahu putramu?”
Ayah Ji menggelengkan kepalanya.
“Aku menginginkanmu menjadi menantuku, Nak.”
Ekspresi Ji hanya datar. Menurutnya tidak ada sesuatu yang spesial karena sejak dulu dia memang sudah hati dengan Citra yang kini menjadi Karnia.
“Baiklah, baiklah. Ayo kita sarapan dulu.” kata ayah Ji
Mereka semua pun pergi ke meja sarapan.
Malam harinya…
Ji duduk sendirian di ruang kerjanya ditemani oleh sebotol minuman soda. Dia terus memikirkan kata-kata yang Karnia ucapkan siang tadi. Ia mencoba menganalisis apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Apa yang membuatnya lupa tentang dirinya sendiri? Atau malah sebenarnya kelahiran kembali itu memang benar adanya?”
Terdengar suara orang mengetuk pintu ruang kerjanya. Aji segera sadar dari lamunannnya dan menyuruh orang tersebut masuk.
“Ibu?”
“Apa yang kamu sedang pikirkan?”
“Entahlah, saya sendiri juga bingung.”
Sang ibu lalu duduk di kursi yang ada di hadapannya.
“Kamu memikirkan Karnia?”
“Saya yakin dia itu Citra, Bu.”
“Bukankah mereka berdua terlalu berbeda?”
“Saya harus cari tahu, untuk memastikan kalau dia adalah orang yang berbeda, Bu.”
Sang ibu menghela napas panjang.
“Apa saya terlalu naif untuk menerima sebuah kenyataan?”
“Ini bukan perkara, naif atau tidak. Hanya saja kamu harus mulai memilah mana yang tepat dan kurang tepat. Ibu tidak mengatakan bahwa apa yang kamu pilih merupakan kesalahan yang tidak harus dibenarkan. Namun, pikirkan seandainya kamu berada di posisinya?”
Ji hening sejenak. Tak lama kemudian ia menghela napas dan kembali menatap ibunya, “Saya hanya ingin memastikan bersama siapa saya akan hidup nanti. Saya tidak bisa melakukan hal yang sama jika Karnia memang bukan Citra. Jika mereka adalah dua orang yang berbeda, maka itu artinya Tuhan memang telah meminta saya untuk melupakan Citra dan hidup bersama dengan Karnia. Namun jika mereka adalah orang yang sama, saya harus tahu alasan dibalik pemalsuan kematian Citra.”
“Baiklah, lakukanlah apapun yang hatimu inginkan. Tapi jangan sampai melewati batas. Jika kamu melewati batas, ibu tidak akan sungkan menghentikannya.”
“Saya akan lakukan yang terbaik. Terima kasih untuk dukungan ibu.”
“Selamat malam, Nak.” kata ibunya lalu keluar dari kamarnya
Ji pun juga keluar dari ruang kerjanya lalu pergi tidur.
~
Hari ini Ji dan Karnia kembali bertemu untuk membeli cincin pertunangan mereka. Ji sengaja mengosongkan semua jadwalnya hari ini, karena ada banyak hal yang ia ingin ketahui tentang Karnia. Apapun itu, semuanya.
“Kamu tidak sarapan dulu?” tanya ayahnya
“Jika saya sarapan, jalanan nanti akan lebih macet. Saya sarapan di rumahnya paman saja.”
“Ya, baiklah. Hati-hati kalau begitu.”
Ji pamit lalu pergi menancap gas mobilnya menuju rumah Karnia. Benar saja, jalanan masih lengang, sehingga, tidak butuh waktu yang lama bagi dirinya untuk sampai di rumah Karnia. Ji bergegas turun lalu pergi menekan bel. Dan ternyata, Karnia sendiri yang membukakan pintu untuknya. Ji segera masuk dan pergi menuju ruang makan bersama Karnia.
“Duduklah, Nak.” kata ibunya Nia
“Terima kasih, bibi.” kata Ji sambil menarik kursi
“Paman senang sekali kamu mau sarapan bersama kami.”
“Saya takut jalanan macet kalau saya sarapan di rumah paman, jadi ya saya mohon maaf kalau numpang sarapan disini.” kata Ji dengan raut wajah sedikit malu
“Haha, kapan pun kamu mau sarapan disini, paman dan bibi akan selalu senang untuk menerimamu.”
“Sekali lagi terima kasih, paman.” ucap Ji sambil tersenyum
Usai sarapan, Ji dan Karnia langsung bergegas pergi.
“Aku ingin melakukan banyak hal denganmu hari ini, apa itu tidak masalah?” kata Ji sambil memasukkan perseneling
“Apa orang yang super sibuk sepertimu ini punya banyak waktu untuk hal-hal semacam itu?”
Ji hening sejenak. Ada sesuatu yang sangat mengusik pikirannya tentang kata-kata wanita yang ada di sampingnya barusan. Karnia menyadari hal itu.
“Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Karnia sambil memandang Ji
“Tidak, maafkan aku. Untuk waktu, hari ini semua waktuku adalah milikmu.”
“Benarkah?” tanya Karnia seakan meragu
“Mari kita buktikan!” jawab Ji menginjak gas
Mereka pun bergegas menuju toko perhiasan. Namun jalanan mulai tak bersahabat. Antrian mobil mulai terlihat dimana-mana. Suasana akan sangat menyebalkan jika mereka berdua terus-terusan diam.
“Aku ingin menanyakam sesuatu padamu, boleh?” Karnia membuka percakapan
Ji hanya mengangguk.
“Wanita yang kemarin kamu tunjukkan di foto itu, aku memikirkannya sepanjang malam dan bertanya-tanya, mengapa wajah kami begitu mirip, aku mulai memikirkan hal yang bukan-bukan sejak tadi malam dan itu sangat tidak menyenangkan.”
Ji masih terus mendengarkan.
“Kamu tahu, aku mulai penasaran dengan diriku sendiri semenjak kamu menunjukkan foto itu. Ini memang terdengar sedikit gila, tapi…itulah yang kurasakan.
“Lalu kamu, apa yang kamu pikirkan sejak saat itu?”
“Aku?” tanya Ji
Karnia menganggukkan kepalanya.
“Entahlah, jika aku mengikuti perasaanku mungkin aku akan terdengar sangat naif. Tapi jika aku mengabaikan perasaanku, mungkin aku akan sangat tampak munafik. Bohong kalau aku tidak menganggapmu sebagai Citra. Tapi jujur, aku pun juga meragu untuk menganggapmu sebagai Citra.”
“Kamu tahu, aku tidak pernah setuju dengan ide ayahku yang selalu berusaha menjodoh-jodohkanku. Ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Mungkin aku akan ikut jika ayahku mengajakku untuk menemui anak dari temannya. Tapi setelahnya? Aku pasti akan menolak mentah-mentah.”
“Lalu kenapa kamu menerimaku?”
“Awalnya aku juga tidak tertarik denganmu. Tapi setelah kamu menunjukkan foto itu, kamu mulai tampak menarik. Aku ingin tahu segala hal tentangmu.”
“Untuk mengetahui segala hal tentang diriku, kamu tak perlu melangkah sejauh ini. Apalagi sampai memutuskan setuju untuk menikah denganku. Kita bisa menjadi sahabat baik.”
Karnia hanya tersenyum, “Iya mungkin itu jauh lebih baik, dan itu artinya aku juga harus membuang jauh-jauh rasa tertarikku padamu saat ini. Apa itu akan membuatmu baik-baik saja?”
To be continue…
Ji hanya tersenyum tanpa memandangnya, “Kamu itu memang sangat menarik.”
“Itu karena kamu menganggapku sebagai Citra. Begitukan?”
“Coba pikirkan, jika aku ini benar-benar menganggap kamu sebagai Citra, apakah mungkin kita memiliki jarak? Jarak yang tak kita sadari?”
Nia diam.
“Aku meyakini satu hal dalam hidup ini, bahwa cinta itu hanya ada di dalam hati, namun kita bisa membuatnya tumbuh melalui perantara orang lain.”
“Aku tahu Ji, bahwa selama ini kamu membutuhkan sebuah kehadiran. Kehadiran dari wanita bernama Citra itu. Aku bisa melihat sebuah perasaan sesal yang teramat dalam ketika aku melihat matamu.”
Ji tersenyum dan enggan berargumen.
“Aku setuju bahwa cinta itu hanya ada di dalam hati, tapi kita membutuhkan sebuah kehadiran untuk melihat cinta itu benar adanya. Benar begitukan?”
Ji mengangguk. Nia memalingkan pandangannya ke arah jendela. Suasana hening sejenak antara mereka.
“Tapi aku tak menginginkan hidup dengan seseorang yang tidak menganggapku sebagai diriku.”
Pernyataan Nia membuat Ji me-rem mendadak. Ji mengarahkan pandangannya ke Nia, “Untuk itu biarkan aku tahu siapa kamu sebenarnya?” ucap Ji
“Apa kamu harus sejauh itu?” tanya Nia tanpa memandang Ji
Ji hening sejenak,menghela napas.
“Maafkan aku,” ucap Ji lalu menginjak gas mobilnya lagi.
Mereka pun akhirnya sampai di toko perhiasan. Ji pun langsung mematikan mesin mobil. Tapi sepertinya, Nia tampak enggan untuk turun. Ji merasa tidak enak dan juga tidak ingin hal ini terus diperpanjang.
“Mungkin sekarang kamu akan mulai menyadari penyesalanmu karena mau menerimaku. Hah! Tapi itu bukan masalah bagiku. Itu kesalahanku dan aku harus lapang dada jika kamu bersikap seperti itu.”
Nia masih tidak mendengarkan.
“Kamu masih punya banyak waktu untuk membatalkan semua ini dan aku akan menunggu sampai kamu memberikan keputusan disini.”
“Jika aku ini MEMANG bukan Citra, apa yang kamu lakukan?” tatapan Nia begitu tajam
“Apa kamu sangat membutuhkan jawaban itu sekarang?”
Nia langsung membuka pintu mobil dan keluar. Ji cukup kesal tapi berusaha untuk tetap tenang. Ia pun lalu keluar dari mobil.
“Bisakah kita sekarang biasa saja dan tidak perlu mempermasalahkan ini lagi?”
Nia menghela napas lalu mengajaknya masuk ke toko perhiasan. Namun siapa sangka, Ji dan Nia bertemu dengan Ro dan Azis di toko perhiasan tersebut.
“Ro? Sedang apa disini?” tanya Nia
“Ya Allah, aku sampai lupa memberimu kabar, Nia.” jawab Ro sambil menepuk jidat
“Kabar apa Ro?”
Ro mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikannya kepada Nia.
“Jangan lupa datang ya?” kata Ro sambil tersenyum
“Waah, kayaknya aku kalah start nih.”
Ro hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya Allah sampai lupa, kenalkan Ro, Azis, ini Ji.”
“Azis.” katanya mengulurkan tangan
“Madi Jigyasa, tapi panggil saja Ji.” jawabnya menjabat tangan Azis
“Maaf ya Nia, aku enggak bisa lama-lama nih. Kita pamit duluan ya.”
“Iya, iya, yang sudah mau jadi calon pengantin. Hati-hati ya, aku pasti datang ke acara kamu.”
“Semoga kamu juga lancar ya, Assalamu’alaikum Nia, Ji.”
Ro dan Azis pun kemudian pergi. Ji dan Nia kemudian pergi untuk memilih cincin mana yang ingin mereka beli. Mereka tidak lama di dalam toko karena membutuhkan waktu yang sebentar untuk membeli cincin yang mereka inginkan. Ji dan Nia pun kembali ke mobil.
“Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanya Ji sambil memasang sabuk pengaman
“Apa kamu harus memulainya sekarang?” Nia merasa tidak bahagia
“Baiklah, maafkan aku.” ucap Ji sambil tersenyum
“Terus, mau kemana kita selanjutnya?” tanya Nia
“Apa ada suatu tempat yang ingin kamu datangi? Aku akan dengan senang hati mengantarmu ke sana.” jawab Ji
“Baiklah, aku yang akan memberitahukan arahnya.”
“Oke.” jawab Ji lalu menyalakan mobilnya
Butuh waktu sekitar dua jam untuk membuat mereka tiba di tempat itu. Nia langsung turun dari mobil begitu Ji selesai memarkir.
“Ke toko buku?”
“Ini bukan toko buku biasa. Sudahlah, ayo masuk!!”
Mereka pun masuk ke dalam. Ada sebuah pemandangan berbeda di toko buku itu, buku yang dijual rata-rata buku edisi zaman dulu yang mungkin sekarang ini sudah sulit untuk mencarinya. Kerennya lagi di toko itu, juga disediakan tempat khusus membaca, maklum saja karena semua buku itu sudah langka, sehingga harga yang dipatok pun tidak tanggung-tanggung harganya.
“Apa kamu ingin membeli salah satu buku yang ada di sini?” tanya Ji pada Nia yang sedang sibuk melihat-lihat buku
“Aku lebih suka membaca disini.” jawab Nia sambil mengambil buku yang ingin dibacanya
Hal ini mengingatkan Ji soal masa lalu. Dimana Citra juga melakujan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Nia.
“Kenapa kalian begitu mirip?” ujar Ji dalam hati
“Apa kamu cuma mau berdiri disitu saja?” tanya Nia
Ji masih diam.
“Ji!!” panggil Nia sedikit keras
“Maaf, maaf.” ucap Ji yang sadar dari lamunannya
Nia menghela napas.
“Ji, aku enggak mau kita berdebat ya?” ucap Nia sedikit galak
Giliran Ji yang menghela napas, “Aku mau ke toilet dulu,” katanya langsung pergi.
Nia berusaha meredam kesalnya lalu pergi ke tempat baca.
Dua puluh menit kemudian, Ji baru mendatanginya di tempat baca. Nia memilih acuh dan tetap fokus pada bacaannya. Sementara Ji lebih memilih untuk fokus dengan gadgetnya. Maklum saja, cuti satu hari membuat banyak pekerjaan yang harus ia telantarkan. Jadi setidaknya ia harus tetap memantau agar pekerjaannya tetap berjalan pada jalurnya. Satu jam kemudian, keduanya mulai berbicara lagi satu sama lain.
“Apa kalau aku jadi istrimu bakal terus dinomorduakan?”
“Aku tidak akan melakukan itu. Kemanapun aku pergi untuk urusan pekerjaan, kamu juga harus ikut denganku.”
“Untuk apa? Untuk membuat citramu jadi bagus?” sindir Nia
“Tanpa harus melakukan hal seperti itu, citraku memang sudah bagus sejak dulu.” Ji agak menyombongkan diri
“Benarkah?” kata Nia tidak percaya
“Aku hanya perlu membangun citra yang baik di hadapanmu. Aku hanya butuh kamu menganggapku sebagai orang baik. Pendapat orang, aku tidak peduli.”
“Apa anggapan itu sangat penting bagimu?”
“Aku bukan tipe laki-laki yang suka mengumbar apa yang bisa kulakukan dan mau mengungkapkan janji yang nantinya tidak bisa untuk kutepati.”
“Apa aku bisa mempercayai kamu?”
“Aku akan menjawab pertanyaan kamu di mobil tadi sekarang.” kata Ji
Nia menutup buku yang dibacanya lantas fokus menatap Ji.
“Kamu tadi bertanyakan, ‘Jika kamu bukan Citra, apa yang akan aku lakukan?’, maka seluruh cinta yang aku miliki untuk Citra akan beralih kepadamu. Ini bukan janji atau ucapan manis, ini adalah sebuah hal yang aku ingin kamu menggenggamnya erat-erat. Ini adalah ucapan yang bisa kamu jadikan alasan untuk pergi dari sisiku selamanya jika aku gagal memberikan seluruh cinta itu padamu.”
“Keingintahuanku mengenai siapa kamu, tidak bermaksud untuk melukai hatimu. Namun jika kamu merasa hal ini sangat melukaimu, sungguh aku minta maaf. Aku ingin mencintai kamu sebagai dirimu. Itu saja.”
“Kalau kamu mau mencintaiku sebagai diriku, hentikan keingintahuanmu tentang aku, Ji! Hentikan semua itu!”
“Maaf, tapi sekarang bukan saatnya bagiku untuk mundur.” Ji bersikeras
“Aku janji Nia, ini tidak akan berlangsung lama.”
“Kamu tidak akan bisa mencintai aku seutuhnya Ji, kamu tidak akan bisa melakukannya,” air mata Nia menetes.
“Tolonglah aku kalau memang begitu. Aku mohon,” ucap Ji
“Aku ingin memulai kehidupan bersamamu dengan perasaan saling mencintai satu sama lain. Bukan karena keperluan masing-masing.”
“Aku ingin memulai membangun sebuah bangunan untuk kita tempati, bersama denganmu. Aku ingin pondasi bangunan itu kokoh dan jika ingin membangun pondasi yang kokoh maka yang membangun harus memiliki visi dan misi yang sama.”
“Lantas bagaimana bisa kita melakukannya ketika aku memiliki visi dan misi untuk berjuang bersama denganmu sementara kamu memiliki visi dan misi mengetahui siapa sebenarnya aku? Apa menurutmu kita akan berhasil?”
“Kamu hanya perlu yakin bahwa aku pasti melakukannya dengan baik. Aku hanya butuh kepercayaanmu.”
“Ini tidak akan berhasil,” Nia langsung beranjak dari kursinya, meletakkan buku kembali ke tempatnya lalu pergi begitu saja.
Ji hanya diam lalu pergi mengikuti Nia sampai ke tempat parkir.
“Nia, tolong, jangan bersikap seperti ini.” ucap Ji
“Aku akan katakan pada ayah untuk sebaiknya tidak melanjutkan rencananya untuk memiliki menantu sepertimu.”
“Aku tidak akan menghalangimu jika memang itu yang kamu mau.”
“Aku tidak mau karam sebelum sampai ke dermaga, hanya karena aku bersikeras untuk tetap bersamamu.”
“Apa itu keinginan terbesarmu, Nia? Inikah yang sebenarnya kamu inginkan?” tatapan Ji sangat tajam
“Kamu hanya menghargai satu perasaan wanita setelah ibumu, Ji. Dan wanita itu bukan AKU!”
“Iya, kamu benar, aku memang hanya menghargai satu perasaan wanita dan wanita itu memang bukan kamu, lantas dimana permasalahannya?”
“Itu yang salah Ji, itu yang salah!” kata Nia dengan nada marah
“Kamu selalu berharap setiap wanita itu adalah Citra dan yang paling parah, kamu menginginkan mereka untuk hidup seperti Citra. Apa kamu pikir Citra itu manusia yang luar biasa yang bisa meninggal lalu kemudian kembali hidup lagi sesuka hatinya?”
“Nia, kamu tidak berhak mengatai Citra seperti itu, kamu tidak berhak Nia!” Ji juga mulai kesal
“Tapi semua perkataanku itu benarkan? Kamu egois Ji, egois kamu!”
Nia langsung pergi meninggalkan Ji lalu pergi menaiki taksi. Ji juga tak mau ambil pusing dan langsung menaiki mobil untuk ikut pergi meninggalkan tempat itu.
Satu minggu kemudian…
Menjelang hari pertunangannya, Nia menghilang dari rumah. Keinginannya untuk membatalkan pertunangan sekaligus pernikahannya dengan Ji ditolak oleh ayahnya dan sang ayah tetap bersikeras bahwa pertunangan dan pernikahan Nia dan Ji tetap harus dilangsungkan. Hingga akhirnya, apa yang menjadi ancaman Nia untuk pergi dari rumah benar-benar dilakukannya.
Ji sudah berusaha mencarinya kemana-mana, tapi ia belum mendapatkan hasil apapun. Ji sempat putus asa untuk bisa menemukan Nia, tetapi ia teringat bahwa temannya dulu sempat mengundang Nia untuk datang ke pesta pernikahan mereka. Ji mencoba mengingat-ingat siapa nama teman Nia itu.
“Ro? Iya, iya, Ro. Aku harus dapatkan nomor Ro.”
Ji langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ibu Nia.
“Halo, bibi!”
“Iya, Ji. Bagaimana?”
“Apa bibi kenal dengan teman Nia yang bernama Ro? Nama lengkapnya saya kurang tahu Bi, tapi dulu kami sempat bertemu saat di toko perhiasan.”
“Sepertinya bibi kenal.”
“Oke, apa bibi punya nomornya?”
“Sebentar, bibi carikan dulu.”
“Baik, terima kasih bibi.”
Ji langsung mengakhiri panggilannya.Tak lama kemudian, datang pemberitahuan sebuah pesan di ponselnya. Ji langsung membuka pesan itu, namun bukan pesan dari ibu Nia, melainkan dari teman Nia yang sedang ia cari tahu nomornya. Begitu membuka pesan itu, Ji langsung menancap gas mobilnya menuju suatu tempat. Tak lama kemudian, ia sampai di sebuah rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Ji langsung berlari masuk ke dalam.
“Bagaimana keadaannya?” kata Ji dengan napas ngos-ngosan
“Masih ditangani oleh dokter. Aku dan Azis masih menunggu sedari tadi di sini.”
Tidak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan ugd.
“Dokter?”
“Apa kalian adalah keluarganya?”
“Saya calon suaminya, dokter.” jawab Ji
“Pasien mengalami kelumpuhan total. Ia tidak akan pernah bisa berjalan selamanya.”
To be continue…

Jangan lupa Share yaa 🙂

Comments

comments