Jakarta, 2000

Tidak ada yang luar biasa. Semua bahkan terlalu biasa di hari perpisahan mereka. Namun mereka tetap enggan menyampaikan perpisahan. Tidak ada yang suka perpisahan antara mereka berdua. Tetapi juga tak ada yang bisa diperbuat agar mereka tidak berpisah.

“Kapan kita akan bertemu?”

Salah satu di antara mereka akhirnya ada yang mau bersuara.

“Jangan pernah tanyakan itu. Aku tak ingin mendengarnya.”

“Semoga waktu segera membawamu kembali bertemu denganku.”

“Aku tidak akan melupakanmu.”

“Harus.” jawabnya dengan percaya diri

Dia tersenyum simpul melihatnya.

“Bahkan di kehidupan yang berikutnya, kamu juga harus selalu mengingatku.”

“Kalau begitu kamu juga harus selalu mengingatku.”

“Itu janjiku. That’s my promise.”

Mereka tersenyum satu sama lain.

Bandung, 2002

Tidak ada yang mengharapkan ini semua terjadi. Bahkan meskipun itu hanya sebuah mimpi. Namun hari ini, dia benar-benar pergi. Sayangnya, kepergiannya kali ini sungguh takkan membuatnya bisa kembali.

“Kita tak pernah membuat janji untuk bertemu dalam momen seperti ini,” katanya dengan air mata menetes.

“Aku tak suka momen seperti ini, jadi ayo bangun!!! Buka kedua matamu itu!!” bentaknya

Semua yang datang pun langsung berlari ke dalam.

“Ada apa denganmu, Nak? Ayo kita tenangkan dirimu terlebih dulu.”

Ayahnya pun membawanya pergi. Dia terduduk lesu. Tatapannya kosong. Namun air matanya terus mengalir. Ini adalah momen yang sangat menyakitkan dalam hidupnya.

“Katakan pada saya kalau itu bukan dia ayah. Katakan pada saya!!” teriaknya

“Kamu yang tabah ya, Nak.” kata sang ayah sambil memegang pundaknya

“Tidak, itu pasti bukan dia. Kami tak pernah membuat janji seperti ini!!”

Sang ayah hanya diam sambil memeluknya.

“Semua akan segera berlalu. Kamu hanya butuh waktu.” kata sang ayah

Bandung, 2017

“Kemana saja kamu? Ini sudah 17 tahun. Kenapa kamu belum menemuiku?” katanya dengan raut wajah sedih

“Aku masih berharap yang tertidur di dalam sana bukan kamu. Terlalu sulit bagiku untuk meyakini bahwa ini kamu.”

“Bisakah aku terus berharap seperti ini?”

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun langsung mengambilnya dari saku lalu menjawab panggilan.

“Iya, ayah.”

“Kapan kamu pulang? Ayahkan sudah bilang kita akan kedatangan tamu spesial.”

“Mungkin besok pagi aku sudah sampai Jakarta.”

“Baiklah, ayah tunggu.”

“Oke.”

Dia langsung menutup panggilannya dan menaruh ponselnya kembali di saku celana.

“Semoga suatu saat nanti, keyakinanku ini benar. Kita pasti akan segera bertemu lagi. Firasatku mengatakan seperti itu. Ingatlah bahwa janjiku tak pernah berubah sampai detik ini. Aku masih menunggumu…”

“Citra,” ucapnya lalu memakai kacamata hitam dan pergi.

Keesokan harinya di Jakarta

Dia baru saja mendarat dan langsung bertolak ke rumah. Sebab, menurut sang ayah tamu spesial sebentar lagi akan datang. Dia sengaja memilih penerbangan pagi buta agar bisa sampai di Jakarta sebelum waktu kemacetan dimulai. Benar saja, ia langsung sampai di ruamhnya ketika jarum pendek menunjuk angka enam. Begitu turun dari mobil ia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Tepat jarum panjang menunjuk ke angka tujuh, bel rumahnya sudah berbunyi. Sang ibu langsung memanggilnya untuk keluar karena tamu mereka sudah datang. Ia pun keluar kamar dan langsung menemui tamu spesial keluarganya.

“Madi Jigyasa.” ia memperkenalkan dirinya

“Anakmu lebih tampan dari dugaanku.”

“Benarkah?” gurau sang ayah

“Oh iya, mana putrimu?”

“Mungkin sebentar lagi.”

Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi. Bibi membukakan pintu dan seseorang pun masuk menghampiri mereka.

“Itu dia putriku.”

Ji dan keluarganya sangat terkejut melihat siapa yang datang.

“Citra?” semuanya kompak menyebutkan nama yang sama

“Citra? Siapa itu?”

“Ya Tuhan, maafkan aku. Aku refleks tadi.”

“Kenalkan, ini putriku, Karnia.”

Ji terus-menerus memandangnya. Ia merasa bahwa Tuhan telah mendengar seluruh harapannya dan firasatnya ternyata tak meleset.

“Aku tahu kamu memang belum meninggal,” kata Ji dalam hati.

“Bisakah aku dan Karnia bicara sebentar, paman?”

“Oh tentu saja. Silakan.”

Ji pun langsung mengajak wanita bernama Karnia tersebut bicara di teras rumah. Mereka duduk saling berhadapan. Ji memperkenalkan namanya terlebih dulu.

“Aku Madi Jigyasa. Kamu bisa memanggilku, Ji.”

“Baiklah. Kalau begitu kamu bisa memanggilku Nia.”

“Bagaimana jika aku memanggilmu Citra?”

“Citra?”

“Astaga, maafkan aku.”

“Ada apa dengan nama itu sampai kamu begitu ingin memanggilku dengan nama itu?”

“Ada sebuah janji yang belum kuselesaikan dengannya.”

“Lalu kenapa tidak menyelesaikannya?”

“Tapi aku pikir mulai hari ini, aku sudah menepati janjiku.”

“Benarkah? Bagaimana caranya?”

“Kamu yakin ingin tahu?” dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih ke depan

“Kamu.”

Mereka pun saling menatap satu sama lain. Suasana sempat hening.

“Aku?” tanyanya sambil menyernyitkan dahi

Suasana hening pun hilang. Ji hanya tersenyum sambil membuang pandangannya ke arah lain.

“Apa aku dan Citra itu memiliki banyak kesamaan?”

“Bukan kesamaan lagi, tapi aku merasa kamu itu adalah dia.”

“Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan hal itu?”

Ji mengambil ponsel dari sakunya lalu memberikan ponselnya pada Karnia.

“Apa itu mungkin secara kebetulan kamu dan dirinya adalah orang yang sama namun berbeda?”

“Aku memiliki keyakinan bahwa seorang yang sudah mati, dia akan tetap berada di sana sebagai dirinya dan tidak mungkin dilahirkan kembali dengan wujudnya namun memiliki sifat orang lain. Itu terlalu tidak masuk akal.”

“Lalu kamu menyimpulkan bahwa aku ini sebenarnya dia?” katanya sambil menunjukkan gambar

“Mungkin kamu adalah dia, yang sebenarnya masih hidup.” kata Ji dengan tatapan serius

Dia meletakkan ponsel itu di kursi sambil mengusap-usap wajahnya.

“Biar aku luruskan.”

Ji mempersilakan.

“Siapa gadis yang ada dalam foto ini?”

“Dia manusia yang sangat aku cintai.”

“Lalu dimana dia sekarang?”

“15 tahun yang lalu orang-orang mengatakan bahwa dia telah meninggal lalu menguburkannya. Tapi..”

“Apa? Tapi apa?”

“Aku masih meyakini bahwa dia masih hidup. Bagiku yang terkubur di dalam tanah itu adalah jasad orang lain.”

Karnia tertawa.

“Apa yang lucu?”

“Jadi ini cerita tentang ketidakmampuanmu menerima kenyataan?” sindir Karnia

“Maksudnya?”

“Lalu karena ketidakmampuanmu itu lantas kamu mengatakan bahwa aku ini adalah dia karena kami sangat mirip? Oh,ayolah!!”

“Kami ini spesies yang berbeda.”

“Berarti kamu mau mengatakan kalau aku gila?”

Karnia menghela napas, “Untuk jawaban jujur, maaf aku harus katakan ‘Ya’.”

Ji hening.

“Tapi tenang saja, aku akan membantumu melewati semua kesulitan. Kita akan melakukannya bersama-sama.”

“Bersama-sama?”

“Apa kamu belum tahu rencana orang tuaku dan kamu?”

Ji menggelengkan kepalanya.

“Baiklah, mari kita masuk untuk mengetahuinya. Kamu duluan.”

Mereka pun beranjak dari kursi dan pergi ke ruang tamu. Baru saja mereka memasuki ruang tamu, kedua orang tua sudah memberikan selama kepada mereka. Ji merasa sangat aneh, sementara Karnia justru biasa-biasa saja.

“Ini ada apa ayah?”

“Kamu harus menjaga Karnia dengan baik ya?” kata sang ayah

Ji masih belum paham.

“Sebentar, ini sebenarnya ada apa?”

“Apa kamu belum memberi tahu putramu?”

Ayah Ji menggelengkan kepalanya.

“Aku menginginkanmu menjadi menantuku, Nak.”

Ekspresi Ji hanya datar. Menurutnya tidak ada sesuatu yang spesial karena sejak dulu dia memang sudah hati dengan Citra yang kini menjadi Karnia.

“Baiklah, baiklah. Ayo kita sarapan dulu.” kata ayah Ji

Mereka semua pun pergi ke meja sarapan.

Malam harinya…

Ji duduk sendirian di ruang kerjanya ditemani oleh sebotol minuman soda. Dia terus memikirkan kata-kata yang Karnia ucapkan siang tadi. Ia mencoba menganalisis apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Apa yang membuatnya lupa tentang dirinya sendiri? Atau malah sebenarnya kelahiran kembali itu memang benar adanya?”

Terdengar suara orang mengetuk pintu ruang kerjanya. Aji segera sadar dari lamunannnya dan menyuruh orang tersebut masuk.

“Ibu?”

“Apa yang kamu sedang pikirkan?”

“Entahlah, saya sendiri juga bingung.”

Sang ibu lalu duduk di kursi yang ada di hadapannya.

“Kamu memikirkan Karnia?”

“Saya yakin dia itu Citra, Bu.”

“Bukankah mereka berdua terlalu berbeda?”

“Saya harus cari tahu, untuk memastikan kalau dia adalah orang yang berbeda, Bu.”

Sang ibu menghela napas panjang.

“Apa saya terlalu naif untuk menerima sebuah kenyataan?”

“Ini bukan perkara, naif atau tidak. Hanya saja kamu harus mulai memilah mana yang tepat dan kurang tepat. Ibu tidak mengatakan bahwa apa yang kamu pilih merupakan kesalahan yang tidak harus dibenarkan. Namun, pikirkan seandainya kamu berada di posisinya?”

Ji hening sejenak. Tak lama kemudian ia menghela napas dan kembali menatap ibunya, “Saya hanya ingin memastikan bersama siapa saya akan hidup nanti. Saya tidak bisa melakukan hal yang sama jika Karnia memang bukan Citra. Jika mereka adalah dua orang yang berbeda, maka itu artinya Tuhan memang telah meminta saya untuk melupakan Citra dan hidup bersama dengan Karnia. Namun jika mereka adalah orang yang sama, saya harus tahu alasan dibalik pemalsuan kematian Citra.”

“Baiklah, lakukanlah apapun yang hatimu inginkan. Tapi jangan sampai melewati batas. Jika kamu melewati batas, ibu tidak akan sungkan menghentikannya.”

“Saya akan lakukan yang terbaik. Terima kasih untuk dukungan ibu.”

“Selamat malam, Nak.” kata ibunya lalu keluar dari kamarnya

Ji pun juga keluar dari ruang kerjanya lalu pergi tidur.

~~~

Hari ini Ji dan Karnia kembali bertemu untuk membeli cincin pertunangan mereka. Ji sengaja mengosongkan semua jadwalnya hari ini, karena ada banyak hal yang ia ingin ketahui tentang Karnia. Apapun itu, semuanya.

“Kamu tidak sarapan dulu?” tanya ayahnya

“Jika saya sarapan, jalanan nanti akan lebih macet. Saya sarapan di rumahnya paman saja.”

“Ya, baiklah. Hati-hati kalau begitu.”

Ji pamit lalu pergi menancap gas mobilnya menuju rumah Karnia. Benar saja, jalanan masih lengang, sehingga, tidak butuh waktu yang lama bagi dirinya untuk sampai di rumah Karnia. Ji bergegas turun lalu pergi menekan bel. Dan ternyata, Karnia sendiri yang membukakan pintu untuknya. Ji segera masuk dan pergi menuju ruang makan bersama Karnia.

“Duduklah, Nak.” kata ibunya Nia

“Terima kasih, bibi.” kata Ji sambil menarik kursi

“Paman senang sekali kamu mau sarapan bersama kami.”

“Saya takut jalanan macet kalau saya sarapan di rumah paman, jadi ya saya mohon maaf kalau numpang sarapan disini.” kata Ji dengan raut wajah sedikit malu

“Haha, kapan pun kamu mau sarapan disini, paman dan bibi akan selalu senang untuk menerimamu.”

“Sekali lagi terima kasih, paman.” ucap Ji sambil tersenyum

Usai sarapan, Ji dan Karnia langsung bergegas pergi.

“Aku ingin melakukan banyak hal denganmu hari ini, apa itu tidak masalah?” kata Ji sambil memasukkan perseneling

“Apa orang yang super sibuk sepertimu ini punya banyak waktu untuk hal-hal semacam itu?”

Ji hening sejenak. Ada sesuatu yang sangat mengusik pikirannya tentang kata-kata wanita yang ada di sampingnya barusan. Karnia menyadari hal itu.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Karnia sambil memandang Ji

“Tidak, maafkan aku. Untuk waktu, hari ini semua waktuku adalah milikmu.”

“Benarkah?” tanya Karnia seakan meragu

“Mari kita buktikan!” jawab Ji menginjak gas

Mereka pun bergegas menuju toko perhiasan. Namun jalanan mulai tak bersahabat. Antrian mobil mulai terlihat dimana-mana. Suasana akan sangat menyebalkan jika mereka berdua terus-terusan diam.

“Aku ingin menanyakam sesuatu padamu, boleh?” Karnia membuka percakapan

Ji hanya mengangguk.

“Wanita yang kemarin kamu tunjukkan di foto itu, aku memikirkannya sepanjang malam dan bertanya-tanya, mengapa wajah kami begitu mirip, aku mulai memikirkan hal yang bukan-bukan sejak tadi malam dan itu sangat tidak menyenangkan.”

Ji masih terus mendengarkan.

“Kamu tahu, aku mulai penasaran dengan diriku sendiri semenjak kamu menunjukkan foto itu. Ini memang terdengar sedikit gila, tapi…itulah yang kurasakan.

“Lalu kamu, apa yang kamu pikirkan sejak saat itu?”

“Aku?” tanya Ji

Karnia menganggukkan kepalanya.

“Entahlah, jika aku mengikuti perasaanku mungkin aku akan terdengar sangat naif. Tapi jika aku mengabaikan perasaanku, mungkin aku akan sangat tampak munafik. Bohong kalau aku tidak menganggapmu sebagai Citra. Tapi jujur, aku pun juga meragu untuk menganggapmu sebagai Citra.”

“Kamu tahu, aku tidak pernah setuju dengan ide ayahku yang selalu berusaha menjodoh-jodohkanku. Ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Mungkin aku akan ikut jika ayahku mengajakku untuk menemui anak dari temannya. Tapi setelahnya? Aku pasti akan menolak mentah-mentah.”

“Lalu kenapa kamu menerimaku?”

“Awalnya aku juga tidak tertarik denganmu. Tapi setelah kamu menunjukkan foto itu, kamu mulai tampak menarik. Aku ingin tahu segala hal tentangmu.”

“Untuk mengetahui segala hal tentang diriku, kamu tak perlu melangkah sejauh ini. Apalagi sampai memutuskan setuju untuk menikah denganku. Kita bisa menjadi sahabat baik.”

Karnia hanya tersenyum, “Iya mungkin itu jauh lebih baik, dan itu artinya aku juga harus membuang jauh-jauh rasa tertarikku padamu saat ini. Apa itu akan membuatmu baik-baik saja?”

To be continue…

Oleh : Diis Yosri

Jangan lupa Share yaa 🙂

Comments

comments