Aku menolak mengatakan kalau kisahku bersama Azis adalah sebuah sandiwara berkepanjangan. Ini sama sekali bukan hal yang kami inginkan. Bahkan aku tak pernah sekalipun memikirkan drama semacam ini akan terjadi di dalam hubungan kami. Namun ya sudahlah, aku takkan pernah bisa mengembalikan abu menjadi kayu lagi atau mengembalikan bubur menjadi nasi. Aku juga tak akan menyesali semua hal yang pernah terjadi antara kami berdua. Aku dan Azis hanyalah dua orang manusia yang mencoba membangun rumah untuk satu sama lain. Kami sudah berusaha melalui jalan apa yang Allah ridhoi. Dia sudah datang untuk meminangku kepada orang tuaku dan kami hanya tinggal selangkah lagi untuk bisa menyempurnakan bangunan rumah itu. Namun tak ada yang menyangka kalau hal semacam ini akan terjadi. Semua tukang bangunan seolah mengundurkan diri dan kami kehabisan dana untuk menyelesaikan rumah yang ingin kami bangun. Aku dan Azis sudah mencoba untuk terus melanjutkan pembangunan rumah semampu kami, dengan sisa-sisa harapan yang kami miliki, namun entah mengapa semuanya terasa sulit. Aku sangat merasa bahwa semesta tak sepenuhnya mendukung kami. Aku merasa memang ini semua harus diakhiri. Perasaan itu begitu kuat dan aku tidak yakin kepercayaan ini berasal dari dalam diriku sendiri atau bukan.

Namun di saat Azis datang, perasaan itu melemah seketika. Gejolak lainnya hadir di dalam hatiku. Ada sebuah pembenaran bahwa aku dan Azis memang harus segera berpisah, namun ada sebuah ketidaksetujuan bahwa perpisahan merupakan cara terbaik yang harus kami lakukan. Aku sudah tidak tahu lagi harus mengungkapkan apa untuk mendeskripsikan hatiku ini.

“Apa kabar Ro?”

“Ro baik. Bagaimana dengan kamu?”

“Rasanya sulit untuk mengatakan kalau aku baik di tengah kesesakan rindu yang menghujam dadaku saat ini.”

Azis membuang pandangannya ke lain arah. Aku tahu ini pertanda bahwa dia malu sekali mengatakan hal ini padaku.

“Maafkan aku, mungkin tidak seharusnya aku berkata begitu.”

“Sudahlah, ini pertemuan kita setelah sekian lama. Apakah kamu datang kemari untuk menanyakan apa jawabanku?”

“Sejujurnya aku sama sekali tidak penasaran dengan jawabanmu. Aku datang menemuimu untuk menuntaskan sesak rindu di dada ini.”

“Kamu boleh pergi jika memang tidak ingin mendengar apapun dariku.”

“Namun aku juga tidak ingin hubungan ini terus begini. Sebentar lagi tahun akan berganti dan itu artinya tanggal pernikahan kita akan semakin dekat.”

“Apa kamu yakin kita bisa sampai ke sana?”, aku memandang Azis dengan tatapan serius.

“Selama kamu masih mau kurengkuh, aku berjanji tidak akan melepaskanmu sampai kita tiba di sana, sampai rumah itu dibangun.”

“Namun jika kamu tak ingin lagi menggenggam tanganku, aku tak akan lagi menghalangi jalanmu untuk sebuah kebahagiaan. Aku takkan lagi menggenggam tangan yang tak ingin lagi digenggam.”

“Kamu yakin?” suaraku mulai parau

“Aku ikhlas, dan sangat yakin.”

Aku melihat air matanya jatuh. Itu air mata yang murni. Ini memang keputusan sulit yang diambilnya. Namun aku tahu, jawaban dia sangat tulus.

“Aku percaya kita dipertemukan untuk banyak alasan. Aku meyakini suatu hal dari pertemuan ini yaitu keberkahan dari hujan. Semua kemungkinan bisa saja terjadi seandainya waktu itu hujan tidak turun. Namun Allah nyatanya mentakdirkan hujan turun pada saat itu dan kita pun akhirnya bertemu. Aku yakin pada saat itu Allah mengatakan bahwa sudah saatnya aku memikirkan hidupku dan memiliki pasangan. Maka waktu itulah, Allah turunkan hujan dan memperkenalkanku padamu. Lalu kamu datang menemui kedua orang tuaku dan kita akhirnya menetapkan tanggal dimana secara resmi kita akan mengikrarkan perasaan ini dengan ridho dari Allah. Ini sedikit klise, namun hari ini aku kembali bertanya mengapa aku sendiri tak yakin dengan keyakinanku?”

“Bahkan meskipun kamu mengabaikanku berbulan-bulan, aku tak pernah memikirkan sedikitpun tentang keraguan. Aku sangat yakin pada apa yang telah kupilih, termasuk memilih kamu sebagai pasangan hidupku. Satu-satunya wanita yang akan menjadi cintaku setelah ibuku dan wanita yang akan menemaniku sampai rambutku memutih dan tubuhku ini semakin ringkih.”

“Selama ini aku berpikir Zis, apakah kemungkinan yang akan terjadi andai aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini atau aku memilih untuk tetap bersamamu. Dimana aku akan menemukan kebahagiaan diantara dua pilihan itu. Aku mencoba menganalisa sambil berdoa memohon diberikan petunjuk. Namun semakin aku yakin, semakin pula aku ragu.”

“Lalu apa yang kamu putuskan, Ro?” Azis menatapku.

“Jujur, Zis, sampai detik ini aku masih ragu untuk menjawab pertanyaan seperti itu.”

“Itu artinya kamu tak siap dengan segala risiko yang ada.”

“Aku memahami satu hal bahwa diriku tak yakin dengan kebahagiaanku sendiri. Entah karena aku yang terlalu sibuk mengurusi kebahagiaan orang sampai akhirnya lupa mencari kebahagiaanku sendiri atau mungkin aku sendiri yang tak menghendaki diriku untuk bahagia. Ini terlalu sulit untuk dijawab.”

Kami hening untuk sesaat. Aku tak berani menatap Azis dan membiarkan pandanganku berkeliaran ke segala arah. Tak lama kemudian terdengar suara adzan. Itu pertanda bahwa waktu sholat ashar sudah tiba. Azis mengajakku pergi dari cafe dan pergi mencari mesjid. Kami menemukan mesjid yang tak jauh dari cafe. Kami datang ke sana lalu sholat berjamaah di mesjid itu. Azis selesai duluan dan sudah menungguku di depan. Aku pun datang menghampirinya setelah selesai mengenakan sepatu.

“Kita akan selalu ke tempat yang seperti ini bersama-sama.”

“Maksudnya?”

“Aku tidak akan bisa menjadi Tuhan untuk dirimu, Ro. Namun aku bisa menjadi apa yang Tuhan inginkan untuk membahagiakanmu.”

“Caranya?”

“Hiduplah bersama denganku.” Azis pun lalu pergi duluan.

Aku berlari menghampirinya, “Sebentar, Zis!”

Dia berhenti tepat di hadapanku, “Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Tidak perlu dijawab sekarang.”

“Aku menyadari satu hal barusan.”

“Apa?”

“Keraguanku itu mungkin datang karena aku terlalu silau dengan hal buruk yang pernah kamu lakukan padaku. Sampai-sampai aku melupakan banyak hal baik yang pernah engkau lakukan padaku. Mungkin beginilah manusia, terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang sampai-sampai dia lupa kalau orang itu juga pernah berbuat baik padanya.”

“Kesalahanku itu memang terlalu sulit untuk dilupakan. Aku menyadari hal itu.”

“Maafkan Ro, Zis.”

“Jika kita harus mengakhiri ini sekarang, maka seharusnya akulah yang meminta maaf. Azis banyak salah pada Ro. Azis melukai hati Ro dan mengkhianati kepercayaan Ro. Maafkan Azis ya Ro. Azis bukan manusia sempurna.”

“….”

“Azis akan antarkan Ro pulang.”

Dia jalan lebih dulu ke mobilnya. Aku mengikutinya di belakang. Tidak ada percakapan apapun yang terjadi antara kami di sepanjang perjalanan. Hanya saja aku melihat Azis terus mengusap wajahnya. Aku melihat betapa terpukulnya dia dengan semua ini. Kami pun tiba di rumahku. Azis turun duluan dan membukakan pintu mobil untukku.

“Azis, aku..”

“Iya Ro, katakan saja.”

“Aku ingin melanjutkan membangun rumah bersamamu.”

“Maksudnya?”

“Kita akan tuntaskan pembangunan rumah itu sampai selesai.”

“Kamu yakin?”

Azis terkejut sekali sepertinya.

“Kita akan mendayung perahu itu bersama lagi, sampai ke sebrang. Kamu masih mau melakukan itu dengankukan?”

“Terima kasih ya Allah.” ucapnya

Di hadapanku, Azis melakukan sujid syukur. Aku sangat terharu melihatnya. Air mataku hampir jatuh.

“Terima kasih ya, Ro.”

“Maafkan aku ya?”

“Semoga Allah meridhoi perjalanan kita untuk bisa sampai ke sebrang.”

“Amin.”

Kami pun tersenyum bersama.

Tamat

Oleh : Diis Yosri

Jangan lupa Share yaa 🙂

Comments

comments