Bulan ramadhan merupakan bulan yang mulia. Bulan diturunkannya Al-Qur’an kitab suci umat dan merupakan petunjuk hidup bagi manusia. Umat Islam memuliaakan bulan ini dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah yakni puasa, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an dan berbagai ritual ibadah lain. Selama 29/30 hari umat Islam dituntut untuk berpuasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Tentunya syariat Islam atas kewajiban berpuasa memiliki banyak sekali rahasia besar yang berdampak positif terhadap kehidupan umat Islam.

Pertama, puasa berfungsi untuk meraih ketaqwaan atau dengan kata lain meningkatnya kualitas taqwa dihadapan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah:183.

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Jika kita amati, pada ayat tersebut menjelaskan tentang kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman seperti umat sebelum umat Islam yakni umat sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Di akhir ayat tersebut menjelaskan tujuan dilakukannya berpuasa yakni untuk meraih peningkatan kualitas taqwa. Taqwa sendiri secara terminologi adalah:

إِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللَّهِ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِهِ

Taqwa merupakan bentuk konsekuensi bagi mukmin yakni, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Arti mudah dari taqwa adalah kemampuan selalu merasa bersama dengan Allah dimanapun berada. Jika dianalogikan, jika kita pergi bersama orang tua akan berbeda saat pergi dengan teman. Ketika bersama orang tua tentu kita tidak dapat bebas untuk bertindak, tentu ada batasan-batasan yang tidak akan kita lakukan saat bersama orang tua. Begitu pula saat merasa selalu diawasi oleh Allah tentunya kita akan waspada terhadap apa yang kita lakukan. Tidak akan melakukan apa yang Allah benci dan Allah larang. Taqwa juga merupakan kemampuan dalam menata diri. Korelasinya adalah ketika kita berprilaku selalu berada dalam jalan yang di ridhoi Allah SWT tentu prilaku tersebut akan berdampak pada proses penataan diri. Hal ini karena perintah Allah pasti akan berdampak positif apabila ikhlas dalam melaksanakannya begitu pula larangan Allah akan berdampak positif jika ditinggalkan. Tentu dengan berpuasa yang merupakan perintah Allah pasti memberikan dampak positif terhadap proses penataan diri kita.

Kedua, puasa Ramdhan merupakan pengendali diri. Dalam diri manusia terdapat dua potensi yakni potensi baik (taqwa) dan potensi buruk (fujur). Potensi baik muncul ketika terjadi kolaborasi antara nafsu lawwamah (kesadaran logis berbuat baik dan mengendalikan diri sebagai fitrah dalam diri manusia) dengan hati. Dan potensi buruk timbul ketika hati berkolaborasi dengan nafsu ammarah (keinginan untuk mengikuti hawa nafsu). Dengan berpuasa menahan lapar, menurunkan potensi diri untuk berbuat mengikuti hawa nafsu. Tentu hal tersebut merupakan implikasi nyata atas manfaat puasa atas pengendalian diri. Tentu dengan terkendalinya diri kita akan menjadi orang yang beruntung. Sesuai dengan kata mutiara bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mampu mengendalikan diri dan mencapai tujuan hidup.

Ketiga, puasa ramdhan merupakan konsekuensi logis dalam membentuk sikap. Melakukan puasa dengan istiqomah dan sungguh-sungguh disertai pembiasaan melakukan amal ibadah yang dilakukan dalam bulan Ramadhan secara kontinu akan melahirkan suatu kebiasaan baik yang susah dihilangkan. Kebiasaan yang dilakukan secara istiqomah selama beberapa waktu akan menimbulkan suatu akhlak dan akan merasa kurang jika belum melakukan kebiasaan tersebut.

Oleh: Muhammad Muhibullah

Kajian Rutin #1 Presented By Departemen Kajian 2018/2019

Forum Kajian Islam dan Sains Teknologi

Sabtu, 19 Mei 2018

Jangan lupa Share yaa 🙂

Comments

comments